TOP NEWS

Sabtu, 10 November 2012

Terapi wicara (speech therapy)...


Terapi wicara (speech therapy)...


Apa itu terapi wicara? Terapi wicara adalah terapi untuk membantu seseorang menguasai komunikasi bicara dengan lebih baik. Terapi ini biasa diberikan kepada:

  • anak-anak yang mengalami keterlambatan bicara (speech delay). Ini merupakan salah satu hambatan tumbuh kembang yang paling umum dialami anak, di mana seorang anak masih belum mencapai kemampuan bicara yang semestinya sudah dikuasai pada usia tertentu. Tentu sebab dari keadaan ini bisa bermacam-macam, dan harus melalui proses 'screening' untuk bisa mengevaluasi sebab dan solusinya.
  • anak-anak dan orang dewasa yang baru selesai menjalani operasi celah bibir (cleft lip/sumbing) dan celah langit-langit (cleft palate). Dengan perubahan anatomi sistem bicara, pasien post operasi celah bibir dan langit-langit sangat penting untuk menjalani terapi wicara untuk mendapatkan hasil yang optimal dari operasi tersebut.
  • anak-anak dengan hambatan tumbuh kembang khusus (autisma, down syndrome, tuna rungu, cerebral palsy)
  • anak-anak/orang dewasa yang mengalami gangguan bicara lainnya : gagap (stuttering), cadel, dll.
  • pasien stroke terkadang kehilangan kemampuan bicara, dan terapi wicara bisa membantu pasien melatih kemampuan bicaranya lagi
07.45 Diposting oleh Niengs T W 0

Temani Adik Bobo Dong!


Temani Adik Bobo Dong!



Belajar tidak berada di dekat orangtua juga menjadi latihan bagi anak, selain kemandirian, saat si kecil menempati kamarnya sendiri.Pelajaran ini memang lebih kepada ikatan emosional daripada fisik.


Tidak ada batasan usia yang pasti bagi anak untuk mulai pisah kamar dengan orangtua. Melainkan, lebih dilihat kepada kesiapan anak itu sendiri. Sebab, masing-masing anak punya kesiapan yang berbeda- beda. Kalau misalkan si anak di usia satu tahun sudah bisa melihat dan bisa ditinggal di kamarnya sendiri, itu tidak menjadi masalah. Namun, ada juga anak yang di usia satu tahun sangat tergantung dengan orangtuanya.


Perlunya memisahkan anak dari kamar tidur orangtua,juga dimaksudkan agar anak tidak melihat saat orangtuanya melakukan hubungan intim. Kalau anak sudah mulai mengetahui banyak hal dan dia sudah bisa melihat dengan jelas, ada baiknya dia sudah mulai ”dipisahkan” dengan orangtua. ”Kalau si anak masih tidur bersama orangtua dan ketika orangtua sedang melakukan hubungan intercourse, maka si anak bisa saja melihatnya secara tak sengaja,” kata psikolog anak Woro Kurnianingrum.


Bila anak melihatnya di usia dini, dia bisa menyalahartikan apa yang dilihatnya. ”Ini yang perlu dihindari,” tegasnya. Paling tidak, menurut teori perkembangan, anak sekitar usia satu tahunan sudah dapat melihat dengan jelas. Namun, biasanya orangtua mulai memisahkan anak ketika si anak mulai menginjak bangku sekolah. Proses memisahkan kamar ini perlu dilakukan secara bertahap. Misalkan,pertama-tama si anak diperkenalkan dengan kamar barunya. Selanjutnya, anak diberikan penjelasan bahwa dia nanti akan tidur di kamar barunya itu.


Usahakan kamar tersebut didesain dengan corak warna dan aksesori kesukaan anak. Lalu, secara bertahap orangtua perlu menemani si anak untuk tidur bersama di kamar tersebut terlebih dulu. Bisa saja di hari-hari pertama orangtua menemani anak tidur di kamar tersebut hingga pagi hari. Secara bertahap berkurang, bisa juga hanya sampai si anak tertidur, kemudian orangtua meninggalkan anak tidur sendiri di kamarnya. Nah, ketika anak terbangun, maka orangtua perlu menemani kembali agar si anak merasa nyaman bahwa orangtuanya masih berada di dekatnya.


Namun, lambat laun ini pun perlu dibatasi. Hingga si anak bisa pergi ke kamarnya dan tidur sendiri tanpa perlu ditemani orangtua. Dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, kini banyak orangtua yang sudah menggunakan alat sensor suara bernama baby talk, yang diletakkan di kamar si anak dan kamar orangtua. Alat tersebut digunakan sebagai alat komunikasi menghubungkan dua kamar. Jadi, ketika anaknya menangis di tengah malam, orangtuanya dapat langsung mendengarkan dan menenangkan si anak dengan mengatakan ayah-ibunya ada di dekatnya. Secara bertahap proses anak pisah kamar ini dapat dilakukan hingga si anak menginjak bangku sekolah dia sudah terbiasa tidur sendiri di kamar.


Lebih jauh dikatakan Woro, anak tidur terpisah dengan orangtua bukan semata soal kesiapan mental si anak saja, juga berkaitan dengan ketersediaan ruang kamar dalam sebuah rumah. Bagi keluarga yang menempati rumah yang punya banyak kamar,mungkin tidak menjadi masalah. Sebaliknya, bagi keluarga yang rumahnya tergolong kecil dan minim kamar, maka perlu ada penyiasatan dalam mengatur tidur pisah ini. Dia menyarankan,kalau sekiranya dalam rumah tersebut hanya terdiri dari satu kamar, ada baiknya pemisahan dilakukan menggunakan sekat pemisah sederhana.


Tujuannya agar si anak tak melihat orangtua, tapi dia dapat merasakan nyaman masih berada dekat ayah-ibu. Sementara itu, psikolog anak Melly Puspitasari menyarankan, dalam menyiapkan kamar anak, sebaiknya merancang kamarnya seaman dan senyaman mungkin.Artinya,pintu dan jendelanya aman terkunci untuk mencegah maling masuk. Kemudian,hal yang perlu diingat, masa kanak-kanak membutuhkan stimulus untuk menumbuhkan dan mengembangkan kreativitas. ”Begitu juga dalam merancang desain kamar anak, kita bisa menyiapkan gambar-gambar yang merangsang kreativitas si anak,” sarannya. Bisa saja orangtua menempelkan huruf-huruf/abjad di dinding kamar anak. Ketika berada di kamar anak, si ibu bisa mengajak anak bermain mengenal huruf-huruf.


”Mama tahu lho huruf A.Ayo kita cari mana yang huruf A?” Dengan demikian, kamar anak bisa menjadi mediasi untuk menumbuhkan kreativitas dan sarana belajar bagi anak.Alhasil, si anak merasa nyaman dan berpikir,” Oh ternyata belajar itu menyenangkan”. ”Kita juga bisa menempatkan karpet berbahan karet sandal yang berbentuk huruf-huruf,” kata Melly. Karpet tadi bisa ditempatkan di kamar anak.Karpet tadi aman bagi kesehatan anak karena tidak menyimpan debu sehingga dapat mencegah anakanak alergi debu.Sebaiknya dihindari menempatkan karpet biasa di kamar anak karena menjadi tidak aman bagi anak yang menderita alergi atau asma.


Anak-anak pada umumnya menginginkan suatu dunia yang berbeda, yakni dunia yang ada di alam imajinasinya. Sekarang banyak tersedia furnitur- furnitur kamar yang bertemakan anak-anak. ”Kita bisa membelikannya sesuai kegemaran anak terhadap benda tertentu. Misalnya anak yang suka dengan mobil, bisa kita belikan tempat tidur atau bantal yang berbentuk mobil-mobilan. Bisa juga kita belikan tempat tidur berwarna-warni cerah,” urainya. Selain itu, bisa juga menempelkan sekeliling dinding kamar dengan gambar-gambar yang disukai anak. ”Contoh lain, si anak diminta menggambar sesuatu. Selanjutnya, gambar itu digunting dan ditempel di lemari pakaian anak,” ujar Melly. (nuriwan trihendrawan)

07.44 Diposting oleh Niengs T W 0

Speech Delay, Usia Dua Tahun Belum Juga Bicara


Speech Delay, Usia Dua Tahun Belum Juga Bicara

Sisca, 2, belum juga bisa mengeluarkan sepatah kata. Padahal anak seusianya sudah mulai terampil berbicara. Apakah dia mengalami keterlambatan bicara?

SEORANG anak mulai memperlihatkan keterampilan bicara pada usia 1,6 tahun–2 tahun. ”Walaupun artikulasi atau pengucapan kata-katanya belum jelas,”kata psikolog anak Woro Kurnianingrum dari Angel's Wing. ”Namun ada juga anak yang baru bisa bicara ketika berusia di atas 2 tahun,” katanya. Ketika ada anak belum bisa bicara saat menginjak usia dua tahun, orangtua boleh khawatir, tapi jangan panik. Orangtua dapat mulai mencari-cari tahu apa penyebabnya?

Tapi, jangan cepat mengambil kesimpulan bahwa anaknya mengalami keterlambatan bicara atau speech delay. Setiap anak berbeda-beda tahapan perkembangannya. Jadi, mungkin saja ada anak yang di usia dua tahun lancar bicara, tapi ada anak yang bicaranya masih belum jelas di usia yang sama. Woro mengungkapkan, dalam berbahasa ada yang dinamakan reseptif dan ekspresif.

Reseptif adalah kemampuan si anak untuk memahami apa yang diucapkan orang lain. Sementara ekspresif adalah kemampuan si anak mengekspresikan pikirannya dengan berbicara. Bagaimana mengetahui kemampuan reseptif anak? Sebagai contoh, ketika orangtua memberikan perintah kepada anaknya agar mengambilkan gelas, mampukah si anak memahami perintah tersebut? (Baca artikel Perkembangan bicara dan bahasa pada anak usia 0-36 bulan)

Bila ternyata anak mampu memahami, berarti kemampuan reseptif anak tidak bermasalah. Pengecekan selanjutnya adalah pada kemampuan ekspresif. Kalaupun belum baik, bisa saja memang tahapannya baru sebatas kemampuan reseptif yang baik. Sering kali orang menganggap anak terlambat bicara tanpa mengetahui faktor reseptif dan ekspresif tadi. Anak yang mengalami keterlambatan bicara biasanya memiliki kendala pada faktor reseptif.

”Kita bisa memberikan latihan- latihan dengan menstimulasi anak agar dapat memahami dan melafalkan ucapan. Misalkan, mama atau papa. Apakah dia bisa mengulanginya,” kata Woro. Kalau ternyata si anak tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali, padahal dia sudah menginjak usia dua tahun. Orangtua boleh khawatir dan mencari-cari tahu.Dengan cara mengecek kondisi fisik berkaitan dengan aspek reseptif.

Apakah ada masalah dengan pendengaran atau pita suaranya. Bila ternyata si anak bisa menirukan lafal /a/, /i/, /u/, /e/, dan /o/, itu artinya tidak ada masalah dengan kemampuan berbicara anak. Bila berjalan hingga usia tiga tahun belum juga bisa bicara, tapi dia memahami pembicaraan orang lain, orangtua dapat berkonsultasi kepada ahlinya. Seperti ke dokter anak untuk mengetahui kondisi fisik anak atau ke psikolog untuk mengetahui apakah ada gangguan dalam perkembangan psikologisnya. Bisa juga mendatangi ke pusat terapi wicara untuk melakukan stimulasi dan terapi.

Pakar perkembangan anak Dr Miriam Stoppard mengatakan, tahapan perkembangan kemampuan bicara dan berbahasa dapat dibagi dalam dua fase, yakni usia perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa, sejak bayi usia 0–8 minggu. ”Pada masa perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa, seorang bayi akan mendengarkan dan mencoba mengikuti suara yang didengarnya,” katanya. Tidak hanya itu, sejak lahir dia sudah belajar mengamati dan mengikuti gerak tubuh serta ekspresi wajah orang yang dilihatnya dari jarak tertentu.

Meski masih bayi,seorang anak mampu memahami dan merasakan adanya komunikasi dua arah dengan memberikan respons lewat gerak tubuh dan suara. Sejak usia dua minggu pertama, dia mulai terlibat dengan percakapan, dan pada minggu ke-6 ia akan mengenali suara sang ibu, dan pada usia 8 minggu, ia mulai mampu memberikan respons terhadap suara yang dikenalinya. Kemudian, tahapan selanjutnya adalah perkembangan kemampuan berbicara dan bahasa.

Tidak lama setelah seorang bayi tersenyum, ia mulai belajar mengekspresikan dirinya melalui suara-suara yang sangat lucu dan sederhana, seperti /eh/, /ah/, /uh/, /oh/ dan tidak lama kemudian ia akan mulai mengucapkan konsonan seperti /m/, /p/, /b/, /j/ dan /k/. Pada usia 12 minggu, seorang bayi sudah mulai terlibat pada percakapan ”tunggal”dengan menyuarakan /gaga/, /ah goo/, dan pada usia 16 minggu, ia makin mampu mengeluarkan suara seperti tertawa atau teriakan riang, dan babbling. Pada usia 24 minggu, seorang bayi akan mulai bisa menyuarakan /ma/, /ka/, /da/ dan sejenisnya.Sebenarnya banyak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seorang anak sudah mulai memahami apa yang orangtuanya atau orang lain katakan. 

07.43 Diposting oleh Niengs T W 1

Terapi Wicara & Anak Terlambat Bicara


Terapi wicara & anak terlambat bicara

 Terapi wicara dan terapi anak terlambat bicara dapat dilakukan dengan berbagai metoda terapi dikombinasikan dengan hipnoterapi. Dengan dukungan orang tua, semangat sang anak, dan kasih sayang Sang Maha Pencipta, kesembuhan adalah suatu hal yang sangat mungkin terjadi! Percayakah Anda? 

Permasalahan justru banyak terletak pada level keyakinan orang tua: apakah ini akan berhasil? Ah saya coba saja, siapa tahu berhasil. Akan lebih baik bila diberi niatan yang ikhlas serta dengan penuh pengharapan kepada Sang Maha Kuasa. Doa dan pengharapan akan sangat membantu. 


 Seiring dengan itu, ikhtiar dan usaha dari orang tua sangat diharapkan. Namun hal ini harus dilakukan tidak oleh sembarang orang. Hanya dilakukan oleh yang mengerti betul metoda dan caranya yang terbukti baik dan hasil permanen.

Sebagian anak mengalami terlambat bicara. Namun seberapa terlambat inilah yang menjadi permasalahan. Terapi anak terlambat bicara yang tepat akan sangat membantu anak-anak untuk bisa berkomunikasi dengan cepat dan benar. Hal ini membutuhkan support / dukungan dari orang tua secara penuh.

Namun ada kalanya faktor-faktor lain ikut mempengaruhi mengapa anak terlambat bicara. Bisa saja orang tua bersikap keras, sering membentak, memaki-maki orang (dan sang anak) sehingga timbul ketakutan yang luar biasa di dalam diri sang anak bahkan untuk berbicara sekalipun.

Atau mungkin ada ketakutan / trauma lainnya sehingga mempengaruhi timing dari kemampuan anak untuk berbicara. Di sinilah peran seorang ahli untuk menggaliroot cause (sumber / inti masalah) yang sebenarnya.

Jadi sayangilah anak-anak Anda dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, ya. Mari kita bentuk generasi mendatang yang jauuuuh lebih baik daripada kita. Setuju? 
07.42 Diposting oleh Niengs T W 0

Terapi wicara pada anak tunarungu


Terapi wicara pada anak tunarungu


Hal berikutnya yang harus dilakukan adalah memberikan intervensi yang tepat kepada anak kita yang tuna rungu. Intervensi tersebut berupa terapi. Ada beberapa terapi yang saat ini kita kenal di Indonesia, yaitu: terapi wicara, terapi auditory verbal (AVT), dan terapi natural auditory oral (NAO). Kita sebagai orang tua dapat memilih salah satu dari terapi-terapi tersebut yang memang sesuai dengan keadaan kita dan anak kita.

Karena pertemuan kali ini adalah membahas tentang terapi wicara, maka yang akan dibahas adalah tentang terapi wicara.
Berbagai masalah anak tuna rungu yang ditangani oleh terapis wicara adalah:

1.      Mendengar
2.      Bahasa
3.      Artikulasi
4.      Irama Kelancaran
5.      Suara

Adapun penjelasan dari penanganan berbagai  masalah tersebut adalah:
1.    Mendengar
         Pada latihan mendengar yang diajarkan dan dilatih adalah:
a.    Deteksi suara
b.    Diskriminasi suara
c.    Identifikasi suara
d.    Komprehensif

2.    Bahasa
         Pada latihan bahasa ini anak tuna rungu diajarkan untuk menyusun kata-kata 
         sehingga mengandung makna dan dapat digunakan untuk berkomunikasi.

3.    Artikulasi
         Bertujuan untuk melatih alat-alat ucap sehingga dapat memproduksi artikulasi dan  
         dapat menyempurnakannya.
          Adapun bagian-bagiannya adalah:
a.    Oral Sensory Motor
                  Bertujuan untuk mengaktifkan organ artikulasi.
b.    Pra Speech
c.    Speech

4.    Irama Kelancaran
         Melatih agar dapat berbicara dengan lancar dan menghindari terjadinya:
a.    Stuttering
b.    Cluttering
c.    Latah

5.    Suara
         Melatih agar suara dapat keluar secara natural dan menghindari produksi suara yang:
a.     Nasal/sengau
b.     Tinggi/melengking
c.      Serak
d.     Besar

07.41 Diposting oleh Niengs T W 0

Jumat, 16 Maret 2012

Terapi Terpadu Untuk Anak Tuna Rungu


Banyak yang mau ditulis, tapi masih repot sama si baby. Tapi kemarin harus nulis buat pihak sekolah si kakak, jelasin beberapa hal. Ini menyangkut komunikasi si kakak, Ellen (6 tahun), yang tuna rungu tapi kami masukkan sekolah umum. Sekaligus berbagi informasi di sini, kalau-kalau berguna. Tulisan terkait akan menyusul (silakan lihat di Recent Posts).





Prinsip Dasar Terapi Ellen
(Terapi terpadu = terapi mendengar + terapi wicara)
1. Mendengar melalui telinga yang dibantu ABD, bukan karena melihat gerakan tangan atau gerakan mulut.
2. Keterbatasan si anak dalam merespon pembicaraan kita adalah karena belum mengerti kata/kalimat yang didengar (keterbatasan kosa kata, karena baru mulai mendengar selama 2 tahun), sehingga perlu dibantu dengan gambar/gerakan tangan. Tetapi bantuan inipun sifatnya hanya sesaat dalam rangka memasok kata baru, setelah kata tersebut dimengerti, bantuan visual dihilangkan.
3. Karena itu yang penting adalah memasok kosa kata ke telinga Ellen, tanpa menuntut dia segera/langsung dapat mengerti apalagi mengucapkan. Untuk dapat mengerti suatu kata si anak harus mendengar 100 kali, untuk dapat mengucapkan ia harus mendengar 1000 kali. Jadi sejak Ellen memakai ABD kami konsentrasi memasok dan memasok kata ke telinganya (saat bercakap-cakap normal, maupun saat spesifik mengajarkan kata-kata baru).
4. Teknik berbicara adalah dengan volume suara normal di dekat telinganya. Hal ini bertujuan agar suluruh konsonan dapat ditangkap. Bicara pada jarak yang lebih jauh dengan suara keras (berteriak) menyebabkan yang ditangkap hanya vokal saja.
5. Kami telah menerapkan point 1-4 selama 1 tahun dan telah terbukti menunjukkan hasil yang baik. Pada akhir tahun pertama, dia baru memiliki bahasa reseptif (paham beberapa kata yang kami ucapkan tanpa dia melihat gerak bibir, tapi dia belum bisa mengucapkannya), lalu setelah itu mulai muncul kata-kata pertamanya (walau pengucapan tidak sempurna, tetapi konsisten), dan langsung disusul dengan kata-kata berikutnya. Metode ini biasa disebut teknik auditory verbal. Ini yang kami terapkan…
6. Kendala yang muncul adalah pengucapan yang masih sangat lemah, karena itulah atas saran John Tracy Clinic kemudian Ellen dibantu terapi wicara (di suatu RS). Terapis wicara membantu membentuk pengucapan Ellen dengan teknik terapi wicara terhadap kata-kata yang sudah dimengerti Ellen tetapi belum bagus pengucapannya. Walaupun hanya 4 bulan (terpaksa quit karena tidak tertampung jadwal baru mereka yang hanya pagi–siang), pola ini telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Metode auditory verbal + terapi wicara ini biasa disebut auditory oral. Ini yang kami lanjut-terapkan saat ini (dengan bantuan terapis wicara di sekolah).

Catatan:
- Penelitian modern menyatakan hampir semua anak tuna rungu masih punya sisa pendengaran (tidak 100% tuli). Sisa pendengaran ini dapat dioptimalkan dengan bantuan alat bantu dengar (ABD, walaupun tidak secanggih implan koklea).
- Tetapi memakai ABD tidak sama dengan orang memakai kaca mata, yang langsung bisa melihat dengan lebih jelas. Karena respon atas stimuli visual adalah langsung, sedangkan respon atas stimuli auditori adalah melalui tahap pemahaman/interpretasi dulu. Untuk mencapai tahap pemahaman yang penting adalah harus sering mendengar dan mendengar, dengan pengucapan yang jelas, kalimat pendek, dan jika perlu disertai bantuan visual: gambar & gerakan tangan (kadang tanpa bantuan akan sulit anak memahami kata-kata baru, mirip kita nonton film berbahasa asing dimana kita mendengar pemain berbicara cas-cis-cus tanpa kita menangkap artinya). Tetapi bantuan itu perlahan dihilangkan, sehingga nantinya hanya akan berkomunikasi secara verbal.
07.27 Diposting oleh Niengs T W 0

10 Jenis Terapi Autisme


10 Jenis Terapi Autisme





Para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan. Sayangnya masih banyak yang terkecoh , dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa oleh karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.
Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Kecuali itu, terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda.



1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
 2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. 
Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
 3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
 4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.

Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
 5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terqapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara2nya.
 6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu. 
 7) Terapi Perilaku.
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya,
 8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
 9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode …………. Dan PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis).
07.16 Diposting oleh Niengs T W 0

Terapi Wicara Pada Autistic Spectrum Disorders


Terapi Wicara


 Terapis Wicara adalah profesi yang bekerja pada prinsip-prinsip dimana      timbul kesulitan berkomunikasi atau ganguan pada berbahasa dan berbicara  bagi orang dewasa maupun anak.  Terapis Wicara dapat diminta untuk berkonsultasi dan konseling; mengevaluasi; memberikan perencanaan maupun penanganan untuk terapi; dan merujuk sebagai bagian dari tim penanganan kasus.


Ganguan Komunikasi pada Autistic Spectrum Disorders (ASD):Bersifat: (1) Verbal; (2) Non-Verbal; (3) Kombinasi.
Area bantuan dan Terapi yang dapat diberikan oleh Terapis Wicara:
  1. Untuk Organ Bicara dan sekitarnya (Oral Peripheral Mechanism), yang sifatnya fungsional, maka
    Terapis Wicara akan mengikut sertakan latihan-latihan Oral Peripheral Mechanism Exercises; maupun Oral-Motor activities sesuai dengan organ bicara yang mengalami kesulitan.
  2. Untuk Artikulasi atau Pengucapan:
    Artikulasi/ pengucapan menjadi kurang sempurna karena karena adanya gangguan, Latihan untuk pengucapan diikutsertakan Cara dan Tempat Pengucapan (Place and manners of Articulation). Kesulitan pada Artikulasi atau pengucapan, biasanya dapat dibagi menjadi: substitution (penggantian), misalnya: rumah menjadi lumah, l/r; omission (penghilangan), misalnya: sapu menjadi apu; distortion (pengucapan untuk konsonan terdistorsi); indistinct (tidak jelas); dan addition (penambahan). Untuk Articulatory Apraxia, latihan yang dapat diberikan antara lain: Proprioceptive Neuromuscular.
  3. Untuk Bahasa: Aktifitas-aktifitas yang menyangkut tahapan bahasa dibawah:
    1. Phonology (bahasa bunyi);
    2. Semantics (kata), termasuk pengembangan kosa kata; 
    3. Morphology (perubahan pada kata), 
    4. Syntax (kalimat), termasuk tata bahasa;
    5. Discourse (Pemakaian Bahasa dalam konteks yang lebih luas), 
    6. Metalinguistics (Bagaimana cara bekerja nya suatu Bahasa) dan;
    7.  Pragmatics (Bahasa dalam konteks sosial).
  4. Suara: Gangguan pada suara adalah Penyimpangandari nada, intensitas, kualitas, atau penyimpangan-penyimpangan lainnya dari atribut-atribut dasar pada suara, yang mengganggu komunikasi, membawa perhatian negatif pada si pembicara, mempengaruhi si pembicara atau pun si pendengar, dan tidak pantas (inappropriate) untuk umur, jenis kelamin, atau mungkin budaya dari individu itu sendiri.
  5. Pendengaran:  Bila keadaan diikut sertakan dengan gangguan pada pendengaran maka bantuan dan Terapi yang dapat diberikan: (1) Alat bantu ataupun lainnya yang bersifat medis akan di rujuk pada dokter yang terkait; (2) Terapi; Penggunaan sensori lainnya untuk membantu komunikasi;
PERAN  KHUSUS  dari Terapi wicara adalah "mengajarkan suatu cara untuk ber KOMUNIKASI"
Yakni  :
  1. Berbicara:
    Mengajarkan atau memperbaiki kemampuan  untuk dapat berkomunikasi secara verbal yang baik dan fungsional.  (Termasuk bahasa reseptif/ ekspresif – kata benda, kata kerja, kemampuan memulai pembicaraan, dll).
  2. Penggunaan Alat Bantu (Augmentative Communication): Gambar atau symbol atau bahasa isyarat sebagai kode bahasa; (1) : penggunaan Alat Bantu sebagai jembatan untuk nantinya berbicara menggunakan suara (sebagai pendamping bagi yang verbal); (2)  Alat Bantu itu sendiri sebagai bahasa  bagi yang memang NON-Verbal.
Dimana Terapis Wicara Bekerja:
  1. Dirumah Sakit: Pada bagian Rehabilitasi, biasanya bekerjasama dengan dokter rehabilitasi bersama tim rehabilitasi lainnya (dokter, psikolog, physioterapis dan Terapis Okupasi). 
  2. Disekolah Biasa: Tidak Umum di Indonesia.  Pada bagian Penerimaan siswa baru, biasanya bekerjasama dengan guru, psikolog dan konselor.  Menangani permasalah keterlambatan berbahasa dan berbicara pada tahap sekolah, dan memantau dari awal murid-murid dengan kesulitan atau gangguan berbicara tetapi masih dapat ditangani dengan pemberian terapi pada tahap sekolah biasa. 
  3. Disekolah Luar Biasa:  Pada bagian Terapi wicara, bekerjasama dengan guru dan professional lainnya pada sekolah tersebut.  Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi
  4. Pada Klinik Rehabilitasi: Praktek dibawah pengawasan dokter, biasanya dengan tim rehabilitasi lainnya,
  5. Praktek Perorangan: Praktek sendiri berdasarkan rujukan, bekerjasama melalui networking.  Biasanya memberikan konsultasi, konseling, evaluasi dan terapi.
  6. Home Visit: Mendatangi rumah pasien untuk pelayanan-pelayanan diatas dikarenakan ketidakmungkinan untuk pasien tersebut berpergian ataupun dengan perjanjian.
Evi Sabir-Gitawan BSc.  Speech & Language Pathologist
07.10 Diposting oleh Niengs T W 0

Jumat, 04 November 2011

Celah Bibir (Bibir Sumbing)

Celah Bibir (Bibir Sumbing) & Celah Langit-langit



DEFINISI
Celah Bibir dan Celah Langit-langit adalah suatu kelainan bawaan yang terjadi pada bibir bagian atas serta langit-langit lunak dan langit-langit keras mulut.

Celah bibir (Bibir sumbing) adalah suatu ketidaksempurnaan pada penyambungan bibir bagian atas, yang biasanya berlokasi tepat dibawah hidung.

Celah langit-langit adalah suatu saluran abnormal yang melewati langit-langit mulut dan menuju ke saluran udara di hidung.



 PENYEBAB
Celah bibir dan celah langit-langit bisa terjadi secara bersamaan maupun sendiri-sendiri. Kelainan ini juga bisa terjadi bersamaan dengan kelainan bawaan lainnya.

Penyebabnya mungkin adalah mutasi genetik atau teratogen (zat yang dapat menyebabkan kelainan pada janin, contohnya virus atau bahan kimia).

Selain tidak sedap dipandang, kelainan ini juga menyebabkan anak mengalami kesulitan ketika makan, gangguan perkembangan berbicara dan infeksi telinga.

Faktor resiko untuk kelainan ini adalah riwayat celah bibir atau celah langit-langit pada keluarga serta adanya kelainan bawaan lainnya.


GEJALA
Gejalanya berupa:
  • pemisahan bibir
  • pemisahan langit-langit
  • pemisahan bibir dan langit-langit
  • distorsi hidung
  • infeksi telinga berulang
  • berat badan tidak bertambah 
  • regurgitasi nasal ketika menyusu (air susu keluar dari lubang hidung).
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan fisik di daerah wajah.
PENGOBATAN
Pengobatan melibatkan beberapa disiplin ilmu, yaitu bedah plastik, ortodontis, terapi wicara dan lainnya.

Pembedahan untuk menutup celah bibir biasanya dilakukan pada saat anak berusia 3-6 bulan.

Penutupan celah langit-langit biasanya ditunda sampai terjadi perubahan langit-langit yang biasanya berjalan seiring dengan pertumbuhan anak (maksimal sampai anak berumur 1 tahun). Sebelum pembedahan dilakukan, bisa dipasang alat tiruan pada langit-langit mulut untuk membantu pemberian makan/susu.

Pengobatan mungkin berlangsung selama bertahun-tahun dan mungkin perlu dilakukan beberapa kali pembedahan (tergantung kepada luasnya kelainan), tetapi kebanyakan anak akan memiliki penampilan yang normal serta berbicara dan makan secara normal pula. Beberapa diantara mereka mungkin tetap memiliki gangguan berbicara.


12.15 Diposting oleh Niengs T W 0

Faktor Resiko Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa Pada Anak


Faktor Resiko Gangguan Perkembangan Bicara dan Bahasa Pada Anak 

Penyebab gangguan perkembangan bahasa sangat banyak dan luas, semua gangguanmulai dari proses pendengaran, penerusan impuls ke otak, otak, otot atau organ pembuat suara.Adapun beberapa penyebab gangguan atau keterlambatan bicara adalah gangguan pendengaran,kelainan organ bicara, retardasi mental, kelainan genetik atau kromosom, autis, mutism selektif,keterlambatan fungsional, afasia reseptif dan deprivasi lingkungan. Deprivasi lingkungan terdiridari lingkungan sepi, status ekonomi sosial, tehnik pengajaran salah, sikap orangtua. Gangguanbicara pada anak dapat disebabkan karena kelainan organik yang mengganggu beberapa sistemtubuh seperti otak, pendengaran dan fungsi motorik lainnya.Beberapa penelitian menunjukkan penyebab ganguan bicara adalah adanya gangguanhemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk ke otak kiri. Beberapa anak jugaditemukan penyimpangan belahan otak kanan, korpus kalosum dan lintasan pendengaran yangsaling berhubungan. Hal lain  dapat juga di sebabkan karena diluar organ tubuh sepertilingkungan yang kurang mendapatkan stimulasi yang cukup atau pemakaian dua bahasa. Bilapenyebabnya karena lingkungan biasanya keterlambatan yang terjadi tidak terlalu berat.Terdapat tiga penyebab keterlambatan bicara terbanyak diantaranya adalah retardasimental, gangguan pendengaran dan keterlambatan maturasi. Keterlambatan maturasi ini seringjuga disebut keterlambatan bicara fungsional.Keterlambatan bicara fungsional merupakan penyebab yang cukup sering  dialami olehsebagian anak. Keterlambatan bicara fungsional sering juga diistilahkan keterlambatan maturasiatau keterlambatan perkembangan bahasa. Keterlambatan bicara golongan ini disebabkan karenaketerlambatan  maturitas  (kematangan)  dari  proses  saraf  pusat  yang  dibutuhkan  untuk memproduksi kemampuan bicara pada anak. Gangguan seperti ini sering dialami oleh laki-lakidan sering terdapat riwayat keterlambatan bicara pada keluarga. Biasanya hal ini merupakanketerlambatan bicara yang ringan dan prognosisnya baik. Pada umumnya kemampuan bicaraakan tampak membaik setelah memasuki usia 2 tahun. Terdapat penelitian yang melaporkan penderita dengan keterlambatan ini, kemampuan bicara saat masuk usia sekolah akan normalseperti anak lainnya.Dalam keadaan ini biasanya fungsi reseptif sangat baik dan kemampuan pemecahanmasalah  visuo-motor  anak  dalam  keadaan  normal.  Anak  hanya  mengalami  gangguanperkembangan ringan dalam fungsi ekspresif. Ciri khas lain adalah anak tidak menunjukkankelainan neurologis, gangguan pendengaran, gangguan kecerdasan dan gangguan psikologislainnya.

Faktor Internal
Berbagai  faktor  internal  atau  faktor  biologis  tubuh  seperti  faktor  persepsi,  kognisi  danprematuritas dianggap sebagai faktor penyebab keterlambatan bicara pada anak.

Persepsi 
Kemampuan membedakan informasi yang masuk  disebut persepsi. Persepsi berkembangdalam 4 aspek : pertumbuhan, termasuk perkembangan sel saraf dan keseluruhan sistem;stimulasi, berupa masukan dari lingkungan   meliputi seluruh aspek sensori, kebiasaan, yangmerupakan hasil dari skema yang sering terbentuk. Kebiasaan, habituasi, menjadikan bayimendapat stimulasi baru yang kemudian akan tersimpan dan selanjutnya dikeluarkan dalamproses belajar bahasa anak. Secara bertahap anak akan mempelajari stimulasi-stimulasi barumulai dari raba, rasa, penciuman kemudian penglihatan dan pendengaran.Pada usia balita, kemampuan persepsi auditori mulai terbentuk pada usia 6 atau 12 bulan,dapat memprediksi ukuran kosa kata dan kerumitan pembentukan pada usia 23 bulan.

Telingasebagai organ sensori auditori berperan penting dalam perkembangan bahasa. Beberapa studimenemukan  gangguan  pendengaran  karena  otitis  media  pada  anak  akan  menggangguperkembangan bahasa.
37 Sel  saraf  bayi  baru  lahir  relatif  belum  terorganisir  dan  belum  spesifik.  Dalamperkembangannya, anak mulai membangun peta auditori dari fonem, pemetaan terbentuk saat

fonem terdengar. Pengaruh bahasa ucapan berhubungan langsung terhadap jumlah kata-katayang didengar anak selama masa awal perkembangan sampai akhir umur pra sekolah.
Kognisi 
Anak pada usia ini sangat aktif mengatur pengalamannya ke dalam kelompok umummaupun konsep yang lebih besar. Anak belajar mewakilkan, melambangkan ide dan konsep.Kemampuan ini merupakan kemampuan kognisi dasar untuk pemberolehan bahasa anak.Beberapa teori  yang menjelaskan hubungan antara kognisi dan bahasa :
1.Bahasa berdasarkan dan ditentukan oleh pikiran
(cognitive determinism)
2. Kualitas pikiran ditentukan oleh bahasa
(linguistic determinism)
3. Pada awalnya pikiran memproses bahasa tapi selanjutnya pikiran dipengaruhi olehbahasa.4. Bahasa dan pikiran adalah faktor bebas tapi kemampuan yang berkaitan.Sesuai dengan teori-teori tersebut maka kognisi bertanggung jawab pada pemerolehan bahasadan pengetahuan kognisi merupakan dasar pemahaman kata.
Prematuritas
Weindrich menemukan adanya faktor-faktor yang berhubungan dengan prematuritasyang mempengaruhi perkembangan bahasa anak, seperti berat badan lahir, Apgar score, lamaperawatan di rumah sakit, bayi yang iritatif, dan kondisi saat keluar rumah sakit.Beitchman, Hood, & Inglis, 1990; Spitz et al., 1997; Tallal, Ross, & Curtiss, 1989;Tomblin, Smith, & Zhang, 1997, melaporkan bahwa gangguan bahasa sekitar 40% dan 70%merupakan kecendrungan dalam suatu keluarga. Separuh keluarga yang memiliki anak dengangangguan bahasa, minimal satu dari anggota keluarganya memiliki problem bahasa. Orang tuayang berpengaruh pada keturunan ini mungkin bertanggung jawab terhadap  faktor-faktor genetik. Mungkin sulit mengetahui berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguanbahasa tersebut, disebabkan oleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.

Faktor Eksternal (Faktor Lingkungan)

Riwayat keluarga
Demikian pula dengan anak dalam keluarga yang mempunyai riwayat keterlambatan ataugangguan bahasa beresiko mengalami keterlambatan bahasa pula.   Riwayat keluarga yangdimaksud antara lain anggota keluarga yang mengalami keterlambatan berbicara, memilikigangguan bahasa, gangguan bicara atau masalah belajar.

 Pola asuh
Law dkk juga menemukan bahwa anak yang menerima contoh berbahasa yang tidak adekuat dari keluarga, yang tidak memiliki pasangan komunikasi yang cukup dan juga yangkurang memiliki kesempatan untuk berinteraksi akan memiliki kemampuan bahasa yang rendah.

 Lingkungan verbal 
Lingkungan verbal mempengaruhi proses belajar bahasa anak. Anak di lingkungankeluarga profesional akan belajar kata-kata tiga kali lebih banyak dalam seminggu dibandingkananak yang dibesarkan dalam keluarga dengan kemampuan verbal lebih rendah.

Pendidikan
Studi lain melaporkan juga ibu dengan tingkat pendidikan rendah merupakan faktor resiko keterlambatan bahasa pada anaknya.

Jumlah anak 
Chouhury dan beberapa peneliti lainnya mengungkapkan bahwa jumlah anak dalam keluarga mempengaruhi perkembangan bahasa seorang anak, berhubugan dengan intensitaskomunikasi antara orang tua dan anak.

Kemiskinan menempatkan anak pada resiko meningkatnya problem-problem rumahtangga (Halpern, 2000). Kemiskinan secara signifikan mempertinggi resiko terpaparnya masalahkesehatan seperti asma, malnutrisi (Klerman, 1991); gangguan kesehatan mental (Gore &Eckenrode, 1996; McLoyd, 1990; McLoyd & Wilson, 1991); kurang perhatian dan ketidak-teraturan perawatan dari orang tua (Halpern, 1993); dan defisit dalam perkembangan kognisi danpencapaian keberhasilan (Duncan, Klebanov, & Brooks-Gunn, 1994; Levin, 1991). Beberapapenelitian menjelaskan bahwa keluarga yang bermasalah, terpapar lebih besar faktor-faktor resiko daripada keluarga yang  tidak berada dibawah level kemiskinan, dan konsekuensi darifaktor-faktor resiko ini dapat lebih berat pada anak-anak dalam keluarga ini (Attar, Guerra, &Tolan, 1994; Brooks-Gunn, Kleba-nov, & Liaw, 1995; Liaw & Brooks-Gunn, 1994; McLoyd,1990).Anak-anak yang terpapar berbagai faktor resiko, maka resiko untuk berkembang menjadidisabilitas akan meningkat. Salah satu yang termasuk disabilitas adalah
specific languageimpairment 
(SLI),  yang  secara  umum  dijelaskan  sebagai  pencapaian  yang  buruk  dalamberbahasa meskipun memiliki pendengaran dan intelegensi nonverbal normal (Spitz, Tallal, Flax,& Benasich, 1997). Lebih khusus hal ini dapat diartikan suatu kondisi yang menyebabkanseorang anak memiliki penilaian spesifik dibawah rata-rata standar tes bahasa, tetapi berada padalevel rata-rata untuk tes intelegensi nonverbal (Fazio, Naremore, & Connell, 1996). Dengandemikian, pencegahan SLI dapat dengan mengidentifikasi faktor resiko anak sebelum diagnosisformal dibuat.Beberapa  penelitian  meneliti  faktor-faktor  resiko  biologi  untuk  SLI  dan  penempatan-penempatan faktor lain dengan melihat “outcome” anak-anak sekolah yang ditempatkan di
neonatal intensive care units
(NICUs) setelah lahir dengan segera. Anak-anak dari populasi inidiketahui memiliki resiko untuk keterlambatan kognisi dan kesulitan akademik karena merekabiasanya lahir prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2500 g) atau respiratori distres.Sebagian besar literatur menyatakan bahwa meskipun anak-anak dari NICU lebih beresikomengalami kesulitan kognisi (seperti retardasi mental dan gangguan belajar), mereka tidak memiliki resiko yang meningkat untuk masalah spesifik bahasa, khususnya saat angka penilaiandisesuaikan karena prematuritasnya (Resnick et al., 1998; Rice, Spitz, & O’Brien, 1999; Siegel etal., 1982; Tomblin, Smith, & Zhang, 1997)

Beberapa  penelitian  memperlihatkan  bahwa  gangguan  bahasa  umumnya  terdapatkecenderungan dalam suatu keluarga berkisar antara 40% dan 70% (Beitchman, Hood, & Inglis,1990; Spitz et al., 1997; Tallal, Ross, & Curtiss, 1989; Tomblin, Smith, & Zhang, 1997). Hampir separuh dari keluarga yang anak-anaknya mengalami gangguan bahasa, minimal satu darianggota keluarganya memiliki problem bahasa. Dengan demikian orang tua yang berpengaruhpada keturunan ini mungkin bertanggung jawab terhadap faktor-faktor genetik. Mungkin tidak diketahui berapa banyak transmisi intergenerasi gangguan-gangguan bahasa tersebut disebabkanoleh kurangnya dukungan lingkungan terhadap bahasa.Kondisi lingkungan merupakan hal yang penting menyangkut hasil perkembangan seoranganak. 
11.15 Diposting oleh Niengs T W 0

Apakah Terapi Wicara dan Bahasa?


Apakah Terapi Wicara dan Bahasa?
Oleh Anthony B DeFeo, PhD
Introduksi
Anak anda akan didaftarkan untuk mengikuti terapi wicara dan bahasa. Artikel ini akan membantu anda untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti: Apakah terapi? Bagaimana terapi membantu anak anda? Bagaimana anda memilih penataan terbaik terapi bagi anak anda.

Evaluasi adalah dasar terapi
Evaluasi yang baru saja selesai dan anda terima tentang anak anda adalah langkah pertama terapi. Evaluasi mencakup observasi cermat dan pemeriksaan (terdiri atas serangkaian tes) kemampuan wicara dan bahasa anak anda. Dari observasi dan pemeriksaan ini, terapis wicara akan mengembangkan rencana penanganan untuk memenuhi kebutuhan khusus anak anda. Sepanjang jalan terapi, pengetesan akan dilakukan untuk mengukur kemajuan dan menetapkan tujuan-tujuan baru untuk pelajaran-pelajarannya. Evaluasi yang tepat adalah bagian penting dari terapi.

Terapi adalah suatu proses
Terapi wicara dan bahasa mencakup serangkaian aktivitas-aktivitas untuk memenuhi tujuan-tujuan spesifik. Biasanya tujuan ini dicapai setelah
dijalani berkesinambungan atau terus-menerus. Jarang sekali terjadi ketrampilan komunikasi berubah dalam satu atau dua sesi terapi.
Panjang terapi kenyataannya tidak dapat diperkirakan. Biasanya makin serius masalah perkembangan anak anda, makin lama perioda terapi yang ia perlukan. Bukan berarti anak akan gagal berkembang. Anda boleh jadi melihat perkembangan yang segera nampak. Lalu perioda kemajuan mulai berlangsung dalam tahap-tahap kecil. Atau anak memperlihatkan kemajuan sejak awal. Atau tiba-tiba perkembangan melonjak sepanjang terapi. Kecepatan dan pola perkembangan berbeda untuk tiap anak. Camkan hal ini baik-baik.

Prosedur-prosedur terapi
Ada banyak cara sukses untuk menangani gangguan komunikasi. Prosedur-prosedur ini mempunyai beberapa faktor yang sama:
1.Anak anda akan belajar ketrampilan baru. Tergantung dari sifat gangguan yang dialaminya, anak akan diminta untuk:
  1. belajar perilaku-perilaku baru, misalnya melafalkan suara wicara tertentu.
  2. Memodifikasi perilaku yang mengganggu komunikasi (misalnya dengan mengurangi kecepatan bicara atau kekerasan suara)
  3. Mempelajari kembali ketrampilan yang hilang akibat didapatnya gangguan komunikasi.
  4. Memperbaiki bicara melalui stimulasi otot dan mengkombinasi latihan motorik bicara melalui prosedur medik seperti pembedahan dan pemasangan alat-alat dental (gigi)
  5. Tambahan untuk komunikasi oral dengan macam-macam alternatif komunikasi non-wicara, misalnya bahasa isyarat, atau instrumentasi elektronika untuk mensintesa suara bicara.
2.Terapi wicara dan bahasa berproses dalam langkah-langkah kecil
Terapi didasarkan pada rencana berurut yang cermat. Terapis wicara akan memilih ketrampilan komunikasi utama yang diajarkan dalam beberapa cara: ’drill’ dan latihan, interaksi bermain, atau percakapan.
Kesulitan anak untuk berespon secara bertahap akan meningkat. Jadi anak diminta berlatih memakai kata tunggal sebelum penggunaan frasa atau kalimat. Terapis wicara dengan cermat dan hati-hati akan ’memberi hadiah’ (reward) respon-respon yang benar. Anak akan diberitahu dengan jelas tentang respon apa yang benar dan apa yang tidak. Ini disebut umpan balik, yang akan membantu anak dalam proses belajar. Terapi diprogram dalam langkah-langkah kecil sehingga anak akan menerima banyak ’hadiah’, terutama pada awalnya. Secara bertahap, anak akan tertantang untuk maju dan meningkatkan ketrampilan wicara dan bahasanya.
3.Terapis wicara akan mengembangkan relasi dengan anak anda. Anak akan menerima dan mengikuti pelajaran dengan baik jika lingkungannya hangat dan mendukung jalannya proses belajar. Terapis akan memakai permainan, hadiah / ’reward’, aktivitas-aktivitas bermain untuk menjaga rasa tertarik anak dan mendorong / menstimulasi agar ia belajar.
4.Orang tua adalah peran kunci (terpenting) dalam proses terapi
Sebagai orang tua, anda mungkin akan diminta membantu mengamati anak di luar sesi terapi dan juga membantu anak berlatih di rumah. Kadang anda akan perlu belajar bagaimana berespon terhadap pelbagai kesulitan berkomunikasi. Mungkin anda diminta belajar bagaimana menjadi contoh / model dari bentuk-bentuk bicara dan bahasa bagi anak anda. Terapis wicara akan mempersiapkan anda untuk aktivitas-aktivitas ini dengan cara menyediakan informasi, tuntunan / petunjuk umum, atau pelatihan ketrampilan spesifik. Anda juga dapat membantu dengan memastikan kehadiran anak anda pada sesi-sesi terapi. Yang terpenting, anda dapat memberi contoh sikap positif terhadap proses terapi.

Frekuensi dan panjang sesi terapi.
Seberapa sering anak hadir mengikuti terapi tergantung pada usia anak, sifat dan keparahan gangguan, pertimbangan biaya dan tersedianya layanan. Para ahli setuju bahwa satu sesi per minggu sering tidak cukup, karena anak akan sulit mengingat apa yang dipelajari. Paling umum, anak ikut 2 – 3 sesi per minggu. Untuk beberapa gangguan bicara seperti gagap dan problem artikulasi tertentu, penanganan tiap hari hasilnya paling sukses. Hasilnya lebih cepat dan permanen. Tapi program intensif seperti ini jarang tersedia, kecuali di sekolah-sekolah umum (di AS).
Panjang sesi juga bervariasi. Untuk anak usia pra-sekolah, mungkin sesi terapi cukup 30 menit. Sesi bisa sejam bila dalam kelompok. Untuk anak yang lebih besar, sesi bisa 45-60 menit.

Penataan terapi
Orang tua mempunyai pilihan dimana mencari layanan terapi wicara dan bahasa. Di Amerika Serikat, sekolah umum menyediakan terapi wicara dan bahasa untuk anak usia sekolah. Beberapa negara bagian menyediakan program untuk anak usia pra-sekolah. Rumah sakit besar menyediakan program ini. Klinik di perguruan tinggi adalah pilihan lainnya.
Di Indonesia, terutama di kota besar, terdapat rumah-sakit dan klinik swasta yang  kini sudah menyediakan layanan terapi wicara. Pada kasus-kasus tertentu, layanan di rumah dapat dilaksanakan. Biaya tentu bervariasi.

Daftar istilah:
Artikulasi– produksi suara wicara
Bahasa isyarat – komunikasi dengan sistem isyarat lebih daripada bahasa tutur
Evaluasi - observasi cermat dan pengetesan atas kemampuan wicara dan bahasa.
Hadiah – reinforce – memberi hadiah untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan.
Model – menyediakan contoh benar bagi anak untuk bisa ditiru.
Papan komunikasi – bantuan untuk orang-orang dengan kesulitan bicara. Papan terdiri atas gambar atau angka, huruf yang mewakili suatu kata. Orang tsb akan menunjuk gambar untuk menyatakan keinginan / menyampaikan berita.


Sumber: Parent Articles – Enhance Parent Involvement in Language Learning – edited by Margaret Schrader, PhD, CCC-SLP.
Contact Persons:
10.40 Diposting oleh Niengs T W 0

Sabtu, 23 Juli 2011

PERANAN ORANG TUA DALAM MEMAJUKAN PERKEMBANGAN BICARA DAN BAHASA ANAK

1.      Setiap anak yang lahir diharapkan dapat hidup dan tumbuh berkembang menjadi anak yang sehat. Seperti kita ketahui bahwa anak akan tumbuh dari kecil menjadi besar, namun juga berkembang dari ketidakmampuan menjadi mampu, bisa melakukan sesuatu.

     Perkembangan tersebut meliputi beberapa aspek antara lain :
A. Perkembangan Motorik.
Perkembangan ini dimulai dengan gerakan-gerakan motorik kasar dan sederhana (gross motorik movement) sampai berkembang menjadi gerakan-gerakan yang halus (fine motor movement).
B. Perkembangan Kecerdasan.
Setiap anak akan berkembang kecerdasannya dari tidak tahu apa-apa sampai menjadi pandai atau cerdas, hal ini menyangkut fungsi mental yang dapat diukur dengan Intelegent Quotion (IQ).
C. Perkembangan Bicara dan Bahasa.
Perkembangan ini dimulai dari tangis bayi saat lahir kedunia sampai anak tersebut mampu berbicara dan berbahasa.
D. Perkembangan Emosi dan Sosial.
Perkembangan emosi berkaitan dengan dengan perkembangan sosial, hal ini membuat anak berkembang semakin matang dalam emosi dan sosialnya. Masing-masing perkembangan tersebut diatas akan berjalan bersama-sama/ secara simulan sesuai dengan tahapan perkembangan masing-masing.

2. Perkembangan Bicara dan Bahasa.
Agar supaya perkembangan bicara dan bahasa bisa berkembang dengan baik diperlukan hal-hal sebagai berikut :
A. Pendenganran yang berfungsi baik.
Pendengaran yang dimaksud adalah kemampuan mendengar suara atau bunyi yang datang dari sekitar.
Berbagai suara yang kita dengan dari sekitar tersebut seperti suara radio, TV, klakson, mobil dan sebagainya.
Suara tersebut mempunyai bermacam-macam aspek antara lain : keras dan lemahnya suara, nada rendah dan tinggi, kualitas suara dan sebagainya. Disamping hal tersebut diatas masih dituntut juga kemampuan untuk mengerti apa yang didengar.
Hal ini lebih penting lagi karena pengertian terhadap apa yang didengar merupakan modal dari perkembangan bicara dan sering hal ini disebut dengan bahasa pasif atau tepatnya bahasa reseptif.
Melalui pendengaran dapat diketahui sumber suara atau bunyi tersebut. Oleh karena itu perlu adanya pembentukan konsep dalam berbahasa baik melalui pendengaran, penglihatan dan perabaan.
B. Penglihatan yang berfungsi baik.
Penglitan merupakan saluran sensoris untuk memasukan gambaran dari apa yang kita lihat kedalam persepsi ke otak.
Fungsi penglihatan yang baik mampu memasukan pengertian yang baik terhadap apa yang dilihatnya.
Disamping fungsi penglihatan itu sendiri harus baik juga perlu adanya fungsi persepsi penglihatan yang baik pula.
Seperti pada fungsi pendengaran, fungsi ini sangat penting untuk pembentukan konsep terhadap sesuatu atau bahasa reseptif.
C. Perabaan yang berfungsi baik.
Perabaan yang dimaksud adalah seluruh permukaan kulit berfungsi baik untuk menerima dan menyalurkan rangsang perabaan ke pengertian di otak.
Oleh karena itu pengertian yang diperoleh dari perabaan memang sangat diperlukan pula dalam perkembangan bahasa reseptif ini.
D. Kesadaran perasaan terhadap gerakan-gerakan otot tubuh.
Kesadaran ini sangat penting bagi perkembangan bicara dan bahsa karena dapat mengatur gerakan tubuh. Ini merupakan modal dalam bicara dan bahasa.
Dalam latihan speech therapy perlu dilatih melalui kaca cermin untuk membantu fungsi dari kesadaran terhadap gerakan tubuh ini.
Dari empat hal tersebut diatas haruslah diperiksa fungsi masing-masing baik secara organis maupun fisiologis.
Untuk kepentingan speech therapy perlu keempat hal yang pokok tersebut dilakukan secara efektif dan efisien dengan memadukan empat saluran tersebut semaksimal mungkin.

3. Pentingnya fungsi Bicara Dan Bahasa.
Bicara dan bahasa adalah berguna bagi kehidupan manusia, terutama untuk komunikasi antara seseorang dengan orang lain atau kelompok yang satu kepada kelompok yang lain.
Secara khusus bicara itu sebagai alat komunikasi untuk melakukan/ menyampaikan pendapat, pikiran, hasrat, kemauan, perasaan isi hati kepada orang lain.
Oleh karena itu bicara itu memerlukan lawan bicara sehingga terjadi hubungan antar manusia. Yang satu berbicara yang lainnya mendengarkan atau sebaliknya.
Kita akan merasa  tidak senang apabila kita berbicara kepada seseorang namun tidak didengarkan, acuh  tak acuh, tidak ada perhatian dan sebagainya.
Hal ini bisa terjadi betapa jengkel kita bila kita ingin menyampaikan pesan yang penting dengan bicara, namun orang yang kita ajak bicara bersikap seperti tidak mendengar (kurang pendengaran), acuh tak acuh, tidak perhatian, tidak mengerti apa yang kita bicarakan (kurang mengerti) atau memberi tanggapan yang tidak kita inginkan. Disamping itu bicara merupakan kebutuhan hidup sehari-hari.
Tiada hari tanpa kata-kata.
Tetapi bila pada saat kita tidak mau atau segan bicara, maka pendapat, hasrat dan perasaan kita dapat kita sampaikan pesan tersebut melalui bahasa tulis yaitu dengan menuliskan pesan tersebut pada selembar kertas agar orang yang kita maksud mengetahuinya.
Sama juga dengan tulisan, kita dapat menjadi tidak senang, jengkel dan sebagainya bila pesan tulisan itu tidak dapat dibaca, tidak diperhatikan, tidak dimengerti meskipun sudah dibaca, mengerti tapi mudah lupa dan sebagainya.
Dengan Bahasa Tulis kita dapat berhubungan dengan orang lain.
Bahasa Tulis saat inipun telah menduduki peringkat ke-2 setelah bahasa lisan.
Karena tidak cukup suatu transaksi/ hubungan yang penting dalam hidup ini tanpa ditulis dalam bentuk bahsa tulis.
Berbeda dengan bahasa isyarat , kitapun dapat menggunakan bahasa ini dengan maksud untuk menyampaikan pesan.
Bahasa ini lebih sulit karena tidak semua pesan dapat dibuat isyarat dan lebih sulitnya bagi bahasa isyarat berbeda antara orang yang satu dengan yang lain (bangsa satu dengan bangsa lain).
Kita harus hati-hati berbahsa isyarat, bisa-bisa terjadi salah paham.

4. Bagaimana Cara Kita Memajukan Perkembangan Bicara dan Bahasa.
Perkembangan bicara dimulai dari tangis bayi pertama saat lahir (birth-cry) sampai berumur 6 tahun sehingga anak siap bicara dengan artikulasi yang benar.
Perkembangan bahsa dimulai sejak bayi tersenyum sampai usia 3 tahun. Sehingga dapat nmenyusun kalimat dengan menggunakan 2 atau 3 kata dengan benar.
Cara agar anak bicara dan berbahasa dapat berkembang dengan baik perlu diper-hatikan hal-hal sebagai berikut :
A.    Usahakan agar fungsi penglihatannya baik, gambaran apa yang dilihatnya diberi arti,  makna atau dinamai.
Hal ini dapat kita lakukan setiap anak melihat sesuatu kapan saja, dimana saja, bila perlu obyek yang sama diulang-ulang.
Untuk itu perlu kiranya kita hadirkan obyek penglihatan tersebut kedekat anak.
Bisa berupa benda sebenarnya, tiruan atau gambar.
Merangsang penglihatan anak dengan obyek tersebut sangat membantu pengertian anak, melatih tajam ingatan anak (memori).
B.     Usahakan agar fungsi pendengaran anak itu baik, bunyi-bunyi, suara yang masuk ke    pendengaran anak hendaknya diberi arti tertentu.
Hal ini bersamaan dengan fungsi penglihatan bila anak melihat Kuda Putih maka kita memasukkan rangsang pendengaran berupa “Suara Kuda” atau kata “Kuda”.
Inipun juga dilakukan setiap saat.
C.    Usahakan fungsi perabaan anak ditingkatkan.
Yaitu apa yang dilihat, apa yang didengar bila perlu diraba atau dipegangnya agar mendapatkan gambaran yang tepat dipusat pengertiannya.
D.    Usahakan fungsi gerak tubuh yang baik.
Hal ini untuk memudahkan anak dalam membuat persepsi tentang sesuatu.
Empat hal tersebut (VAKT) diatas sangat penting bila dilakukan semaksimal mungkin.

Perlu masih harus mendapat perhatian  pula bagi orang tua :
A. Dapat menjadi lawan bicara yang baik.
Yakni dapat menjadi pendengar yang baik, berusaha mengerti bicara anak, tidak acuh tak acuh, memperhatikan bicara anak dan memberi tanggapan yang positif.
B. Perlu bersikap sabar, berusaha membuat kominikasi dengan 3 (tiga) cara berbahasa (lisan, tulisan, isyarat).
C. Memberikan rangsang yang selektif baik penglihatan, pendengaran, perabaan dan gerakan.
Usahakan rangsangan yang selektif tersebut disesuaikan dengan tingkat dan usia anak atau tepatnya sesuai dengan kemapuan dasar yang dimiliki anak (basic ability).
D. Setiap  hari, bulan dan tahun usia anak diusahakan bertambahnya perbendaharaan           (vocabulary).
E. Khusus anak yang speech defect, orang tua diperlukan cara khusus berbicara dengan kata-kata yang jelas, sederhana ucapannya dan kalimat, juga dengan  suara bicara yang wajar (tidak usah dibuat-buat).

Contoh  :  Selamat pagi.

Akhirnya kami berharap peran orang tua dalam membimbing dan mendidik anak hendaknya lebih terarah lagi terutama bagi anak yang bermasalah.
Peranan orang tua dalam perkembangan bicara dan bahasa sangat penting sekali, maka kami ingatkan bahwa dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah tercantum 6 aspek yang harus dikembangkan :
1. membaca.
2. kosa kata.
3. struktur.
4. menulis.
5. pragmatik.
6. apresiasi.

23.49 Diposting oleh Niengs T W 0